Selasa, 25 Oktober 2011

Makalah Kesehatan Tentang Penyakit Tifus

Bab I
Pendahuluan


1.1 Latar Belakang
Penyakit tifus sudah lama “menemani” kehidupan kita yang bermukim di Indonesia. Bukan jenis penyakit baru, tapi tak kunjung berhasil diberantas. Bahkan karena kebandelannya, kuman ini bisa bangkit lagi menyerang bila pengobatan tak tuntas. Bagaimana supaya tak terjangkit tifus, dan kalau sudah terjangkit hal-hal penting apa yang harus dilakukan?
Setelah beberapa hari demamnya tak kunjung turun, Tina dinyatakan terdeteksi menderita tifus abdominalis atau lebih dikenal demam tifoid. Syukurlah, cukup diobati selama dua minggu kondisinya sudah terlihat membaik. Sayang begitu obat dihentikan, demam dan sakit perutnya mulai terasa kembali.
Rupanya kuman salmonela, si biang keladi yang bersarang dalam usus halusnya belum terbasmi tuntas. Begitu Tina diberi obat lagi selama dua minggu berikutnya, kondisinya pun pulih. Ia tidak lagi diganggu sakit perut ataupun demam. Buang airnya juga sudah kembali normal. Pemeriksaan darah di laboratorium klinik terhadap salmonela memberi hasil negatif.
Kuman Sallmonela Penyebab Penyakit Tifus
Kuman salmonela merupakan penyebab tifus. Kuman penghantam usus halus ini terdiri atas Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi A, B, C. Binatang seperti unggas, kucing, anjing, sapi, kuda, babi serta binatang mengerat merupakan sahabat kuman yang juga sangat betah tinggal dalam tubuh manusia. Salmonella typhi umumnya lebih ganas daripada Salmonella paratyphi. Kalau pas naas, dalam tubuh seorang penderita bisa saja hinggap sekaligus kedua macam salmonela itu. Soalnya kuman ini cukup tangguh. Ia mampu bertahan hidup cukup lama dalam tinja, sampah, daging, telur, makanan yang dikeringkan, bahkan dalam bahan kimia seperti zat pewarna makanan sekalipun.
Rupanya kuman salmonela, si biang keladi yang bersarang dalam usus halusnya belum terbasmi tuntas. Begitu Tina diberi obat lagi selama dua minggu berikutnya, kondisinya pun pulih. Ia tidak lagi diganggu sakit perut ataupun demam. Buang airnya juga sudah kembali normal. Pemeriksaan darah di laboratorium klinik terhadap salmonela memberi hasil negatif.
Pengobatan penyakit usus ini memang susah-susah gampang, karena memerlukan pemantauan berkelanjutan. Pasalnya, bila kuman belum terbasmi dengan baik, dan pengobatan dihentikan, bisa saja muncul gejala ulang seperti pada Tina tadi. Atau bahkan yang lebih fatal lagi, dapat terjadi komplikasi pada organ lain.


1.2 Tujuan
a. mengetahui sebab terjadinya penyakit tifus
b. mengetahui gejala-gejala dari penyakit tifus
c. mengetahui pengobatan dari penyakit tifus
d. mengetahui pencegahan  penyakit tifus




Bab II
Pembahasan

2.1 Sebab Terjadinya Penyakit Tifus
  


Tifus disebabkan oleh bakteri yang bernama Salmonella typhi. Bakteri ini ada pada berkembang cepat pada tempat-tempat yang kotor. Penyebaran bakteri ini dibantu oleh serangga-serangga pembawa bakteri seperti lalat atau serangga lainnya. Bakteri ini bisa ada pada makanan atau minuman dan akan masuk ke tubuh orang yang mengkonsumsinya. Itulah penyebab seseorang bisa terkena tifus. Bakteri tifus menyerang usus sehingga menyebabkan luka pada usus. Selanjutnya akan menyerang hati, limpa dan kantung empedu.

2.2 Gejala Penyakit Tifus
Pada penderita tifus, gejalanya adalah sebagai berikut:

    1. Awalnya, demam yang dialami tidak terlalu tinggi dan suhu akan terus meningkat bertahap sampai > 38 derajat Celcius.
    2. Khususnya pada malam hari, suhu akan meningkat dan akan turun pada pagi hari. Inilah yang membedakan demam tifus dengan demam pada demam berdarah. Nyeri perut , diare, batuk dan sakit tenggorokan. Akibatnya usus terluka sampai bisa  mengalami perdarahan. Dalam hal ini tinja penderita berwarna kehitaman. Pada kasus lebih parah dinding usus sampai berlubang. Demam tifoid pada umumnya berlangsung selama 10 - 20 hari, meski dapat bervariasi antara 3 - 60 hari, tergantung jumlah kuman yang menyerbu. Semakin banyak, tentu semakin cepat muncul gejalanya. Kemudian, dari hari ke hari demam pada penyakit usus halus ini akan naik. Kalau pada hari-hari pertama demam hanya timbul pada sore atau malam hari, setelah minggu pertama juga akan timbul pada pagi dan siang hari. Bila saat itu penderita belum juga mendapat obat antibiotik yang membantu membasmi kuman tersebut, pada minggu kedua sampai ke empat suhu tinggi akan menetap.

2.3 Pengobatan Penyakit Tifus

Untuk pengobatan tifus, biasanya akan diberikan antibiotik untuk membunuh bakteri. Untuk menyembuhkan usus yang luka, makanan yang dimakan tidak boleh keras agar tidak memaksa kerja usus yang sedang sakit. Nasi tim atau bubur menjadi makanan yang dikonsumsi penderita. Hindari juga makanan yang asam dan pedas.

2.4 Pencegahan Penyakit Tifus
Penyakit tifus tetap dapat dicegah dengan memperhatikan kebersihan lingkungan dan perorangan. Upayakan agar makanan tidak dihinggapi lalat dan masaklah makanan dan air minum sampai betul-betul matang. Bila perlu kita bisa mencegahnya dengan imunisasi, terutama saat salmonela sedang mewabah.Selain itu, penting menjaga kondisi tubuh tetap fit. Dengan daya tahan tubuh yang kuat mencegah penyakit  Tifus menimpa kita.
Lalat Pada Makanan, Menandakan Makanan yang Kurang Bersih




BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan
Untuk menghindari terserang penyakit tifus, kita harus selalu menjaga kebersihan lingkungan dan diri kita sendiri. Terutama kebersihan dari makanan dan minuman yang akan kita 
konsumsi. selain itu, kebersihan alat-alat makan juga sangat perlu diperhatikan.  

3.2 Saran
Kepada para pembaca, semoga setelah melihat isi makalah ini, dapat segera memperbaiki cara hidup yang mungkin selama ini kurang bersih.
 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar